Langkah Pertama di Pintu Pameran: Kolaborasi Animasi Squad dan Penari SASENI Nyer Ijo

Tidak semua pameran dimulai dari dinding pertama yang dilihat pengunjung.

Labyrinth of Animasi Squad justru dimulai sebelum pengunjung benar-benar masuk. Tepat di ambang pintu. Di titik ragu antara “luar” dan “dalam”.

Di sanalah kami memutuskan: pameran ini harus punya sambutan. Bukan sambutan formal. Bukan pula sekadar ucapan selamat datang.
Melainkan pengalaman awal.

Mengapa Penari di Pintu Pameran?

Pertanyaannya sederhana:
bagaimana membuat pengunjung berhenti sejenak sebelum melangkah?

Karya visual di dalam ruang sudah kami siapkan dengan matang. Namun kami ingin sesuatu yang langsung menyentuh rasa—sebelum mata sibuk membaca visual.

Tarian menjawab itu.

Gerak tubuh, ritme, dan ekspresi mampu berbicara tanpa kata. Ia menghadirkan suasana. Ia menyiapkan emosi. Dan yang paling penting, ia mengajak pengunjung untuk hadir sepenuhnya, bukan sekadar lewat.

Tarian sebagai Gerbang Labirin

Dalam konsep Labyrinth, pintu masuk bukan hanya akses fisik. Ia adalah gerbang cerita.

Penari SASENI Nyer Ijo berdiri bukan sebagai hiburan tambahan, melainkan sebagai simbol awal perjalanan. Setiap gerakan menjadi penanda bahwa pengunjung sedang berpindah dari dunia luar ke ruang karya.

Tidak ada dialog. Tidak ada narasi tertulis.
Namun tubuh penari sudah cukup untuk berkata:
“Kamu akan masuk ke ruang yang berbeda.”

Dan di situlah labirin dimulai—bukan di dinding, tapi di rasa.

Kolaborasi yang Tumbuh dari Satu Sekolah

Kerja sama ini tidak lahir dari agenda besar atau konsep yang rumit. Ia tumbuh dari kesadaran sederhana: seni tidak pernah berdiri sendiri.

Animasi Squad membawa karya visual.
SASENI Nyer Ijo membawa seni gerak.
Keduanya bertemu di satu titik: keinginan menghadirkan pengalaman utuh bagi pengunjung.

Latihan dilakukan bersama. Waktu disesuaikan. Ruang dipelajari. Tidak ada yang merasa lebih penting. Tidak ada yang sekadar pelengkap.

Yang ada hanyalah dua komunitas seni sekolah yang saling memberi ruang.

Seni Pertunjukan sebagai Awal Perjalanan

Bagi banyak pengunjung, momen di pintu pameran itu menjadi kesan pertama yang sulit dilupakan.

Sebelum melihat sketsa, ilustrasi, atau model 3D, mereka lebih dulu merasakan. Dan dari rasa itulah mereka melangkah masuk, lebih pelan, lebih sadar.

Di Labyrinth of Animasi Squad, seni pertunjukan bukan pemanis. Ia adalah pembuka jalan.
Sebuah langkah awal yang mengantar pengunjung ke dalam labirin karya siswa—dengan hati yang sudah siap berjalan.

Scroll to Top