Labyrinth of Animasi Squad 2025: Sebuah Perjalanan, Bukan Sekadar Pameran

Tidak semua pameran dimulai dari keyakinan penuh.
Sebagian justru lahir dari keraguan, percakapan kecil, dan pertanyaan yang terus berulang.

Apakah karya siswa sudah cukup layak untuk dilihat orang lain?
Apakah ruang kelas bisa berubah menjadi ruang pamer?
Dan yang paling penting: apakah proses belajar mereka pantas untuk dirayakan?

Dari pertanyaan-pertanyaan itulah Labyrinth of Animasi Squad pertama kali dibayangkan.


Bukan Tentang Dinding, Tapi Tentang Jejak

Di awal, tidak ada rencana besar.
Yang ada hanyalah tumpukan tugas kreatif siswa kelas XI Animasi—sketsa, ilustrasi, konsep karakter, model 3D—yang selama ini hidup di layar, buku gambar, dan folder tugas.

Karya-karya itu bukan hasil instan.
Mereka adalah jejak proses: salah, diperbaiki, diragukan, lalu dikerjakan ulang.

Labyrinth lahir dari satu kesadaran sederhana:

proses belajar juga layak untuk dilihat, bukan hanya dinilai.


Mengapa Labyrinth?

Nama Labyrinth tidak dipilih untuk terdengar keren.
Ia dipilih karena terasa paling jujur.

Belajar animasi bukan jalan lurus.
Ia berliku, berputar, kadang membuat bingung, kadang membuat ingin berhenti.

Dan seperti labirin, setiap siswa menempuh jalurnya sendiri.

Pameran ini tidak ingin memamerkan kesempurnaan.
Ia ingin mengajak pengunjung menyusuri perjalanan.


Sebuah Ruang yang Akan Berubah

Ruang kelas XI dan XII Animasi yang biasa dipenuhi meja dan kursi pelajaran, perlahan mulai dibayangkan ulang.
Bukan lagi sebagai tempat duduk dan mendengar, tetapi sebagai ruang berjalan, melihat, dan merasakan.

Dinding, sudut kelas, alur masuk dan keluar—semuanya dipikirkan.
Bukan hanya untuk menaruh karya, tapi untuk membangun pengalaman.

Namun semua itu masih sebatas bayangan.
Cerita tentang bagaimana kelas itu benar-benar berubah, akan kami ceritakan nanti.


Banyak Tangan, Banyak Cerita

Labyrinth of Animasi Squad tidak pernah dikerjakan oleh satu orang.
Ia tumbuh dari kolaborasi: siswa, guru, komunitas seni sekolah, dan lintas jurusan.

Ada penari yang membuka pintu pameran.
Ada karya yang dijual dan dibawa pulang.
Ada ruang yang disiapkan bersama, hingga larut dan lelah bercampur tawa.

Semua detail itu penting.
Dan semua detail itu punya ceritanya sendiri.


Ini Bukan Akhir, Ini Awal Cerita

Artikel ini bukan laporan kegiatan.
Ia adalah pintu masuk.

Di seri-seri berikutnya, kami akan bercerita lebih dekat:

  • bagaimana konsep pameran dirumuskan,
  • bagaimana karya siswa disiapkan,
  • bagaimana ruang kelas berubah wajah,
  • bagaimana dua hari pameran itu dijalani,
  • hingga bagaimana karya siswa akhirnya diapresiasi publik.

Labyrinth of Animasi Squad 2025 adalah perjalanan.
Dan setiap perjalanan layak untuk diceritakan, pelan-pelan.

Sampai jumpa di cerita berikutnya.

Scroll to Top