Popup Store, Bazaar, dan Ekosistem Karya: Saat Pameran Jadi Ruang Hidup

Pameran biasanya identik dengan satu hal: melihat.

Melihat karya.
Melihat dinding penuh visual.
Melihat proses yang dibingkai rapi.

Tapi di Labyrinth of Animasi Squad 2025, kami ingin lebih dari itu.

Kami ingin ruang ini hidup.

Teras yang Tidak Sekadar Teras

Di luar ruang pamer utama, tepat di teras kelas, suasana terasa berbeda. Tidak sunyi seperti di dalam zona karya. Tidak formal seperti pembukaan acara.

Di sana berdiri Popup Store Animasi Squad.

Minuman segar tersusun rapi.
Makanan manis tersaji menggoda.
Dan di satu sudut meja, berjajar merchandise hasil 3D print—keychain karakter kecil yang lahir dari tangan siswa sendiri.

Pengunjung yang tadinya hanya ingin melihat karya, mendadak berhenti lebih lama. Ada yang membeli minuman. Ada yang penasaran dengan gantungan kunci hasil cetak 3D. Ada yang bertanya, “Ini dibuat sendiri?”

Dan ketika mereka tahu jawabannya adalah “iya”, percakapan kecil pun terjadi.

Di titik itu, karya tidak lagi diam di dinding. Ia berpindah tangan. Ia dibawa pulang.

Bukan Hanya Animasi Squad

Yang membuat ruang ini semakin hidup adalah kenyataan bahwa Animasi Squad tidak sendirian.

Di area yang sama, Bazaar PKK kelas XI DKV 1 ikut membuka lapak. Mereka bukan sekadar “ikut meramaikan”. Mereka adalah bagian dari unit usaha mata pelajaran PKK—belajar membangun produk, menghitung biaya, melayani pembeli.

Meja-meja penuh makanan. Suasana lebih ramai. Interaksi terjadi tanpa skenario.

Pameran yang awalnya dirancang sebagai ruang apresiasi karya visual, perlahan berubah menjadi ruang pertemuan lintas kelas dan lintas minat.

Ekosistem yang Tumbuh Bersama

Ada sesuatu yang berbeda ketika karya tidak hanya dipajang, tapi juga berinteraksi.

Siswa belajar bahwa kreativitas tidak berhenti di proses produksi. Ia bisa berlanjut ke distribusi, ke kewirausahaan, ke cara membangun nilai dari ide.

Keychain 3D print bukan sekadar merchandise. Ia adalah bukti bahwa karya bisa punya nilai ekonomi.
Minuman dan makanan bukan sekadar pelengkap. Ia menciptakan suasana.
Bazaar bukan sekadar jualan. Ia adalah latihan nyata membangun usaha.

Dan dari semua itu, pameran berubah fungsi. Ia bukan lagi ruang satu arah—dari pembuat ke penonton. Ia menjadi ruang dua arah, bahkan banyak arah.

Orang datang, melihat, membeli, berbincang, tertawa, lalu kembali lagi ke ruang pamer dengan rasa yang berbeda.

Lebih dari Sekadar Melihat

Di sinilah makna baru itu terasa kuat:

“Di sini, karya bukan hanya dilihat, tapi dibawa pulang dan dirasakan.”

Labyrinth of Animasi Squad bukan hanya tentang perjalanan karya di dinding. Ia juga tentang bagaimana karya itu menemukan hidupnya di tangan orang lain.

Dan mungkin, di situlah pameran benar-benar menjadi ruang yang utuh—ruang belajar, ruang apresiasi, sekaligus ruang tumbuh bersama.

Scroll to Top