Dari Ruang Belajar ke Ruang Pamer: Mengubah Kelas Menjadi Labyrinth

Tidak ada yang langsung percaya, bahkan di antara kami sendiri.

Ruang itu awalnya hanyalah kelas biasa—dinding kusam, meja berderet, papan tulis penuh sisa tinta spidol. Tempat siswa duduk, mencatat, lalu pulang. Tidak lebih.

Tapi Labyrinth of Animasi Squad menuntut sesuatu yang berbeda.
Jika karya siswa ingin diapresiasi dengan layak, maka ruangnya pun harus ikut berubah.

Dan perubahan itu dimulai dari hal paling mendasar: dinding kelas.

Mengecat: Menghapus Jejak Lama, Menyambut Cerita Baru

Hari-hari pertama diisi dengan bau cat dan tangan penuh noda warna.

Siswa datang bukan membawa tas dan alat tulis saja, tapi rol cat, kuas, dan ember. Ada yang masih ragu menggoreskan warna pertama, ada yang langsung mengambil alih dinding tanpa banyak bicara.

Setiap sapuan cat bukan sekadar mengubah warna, tapi juga menghapus identitas lama ruang tersebut sebagai “kelas biasa”. Pelan-pelan, ruangan mulai terasa asing—dan justru itu yang diinginkan.

Di titik ini, siswa belajar bahwa membangun pameran bukan hanya soal karya, tapi juga soal ruang yang membungkus karya.

Menyusun 10 Zona: Ketika Ruang Mulai Berpikir

Setelah dinding berubah, tantangan berikutnya muncul: bagaimana karya akan ditempatkan?

Pameran ini tidak ingin menjadi sekadar deretan karya di tembok. Ia harus punya alur, ritme, dan pengalaman. Dari situlah lahir ide 10 zona pameran, masing-masing dengan peran dan karakter berbeda.

Sketsa zoning mulai bermunculan.
Kertas-kertas ditempel di dinding.
Diskusi kecil terjadi di sudut kelas.

Zona mana yang harus dilihat pertama?
Karya mana yang butuh ruang sunyi?
Di mana pengunjung perlu berhenti, dan di mana mereka harus bergerak cepat?

Siswa tidak lagi berpikir sebagai “pembuat karya”, tapi mulai belajar menjadi kurator dan perancang ruang.

Alur Pengunjung: Membimbing Tanpa Menggurui

Labyrinth bukan tentang membuat orang tersesat, tapi tentang mengajak mereka berjalan.

Menentukan alur pengunjung menjadi pekerjaan yang rumit. Terlalu bebas, karya bisa terlewat. Terlalu kaku, pengalaman terasa membosankan.

Beberapa kali susunan diubah.
Beberapa karya dipindahkan.
Beberapa zona dipersempit, yang lain diperluas.

Di sini siswa belajar bahwa pengalaman pengunjung sama pentingnya dengan karya itu sendiri. Pameran bukan hanya soal dilihat, tapi juga dirasakan.

Kerja Fisik dan Kerja Kreatif yang Bertemu

Yang paling terasa dari proses ini bukan hasil akhirnya, melainkan suasananya.

Ada siswa yang seharian mengecat lalu malamnya masih menyempurnakan ilustrasi.
Ada yang mengangkat papan display pagi hari, lalu sore berdiskusi soal pencahayaan.
Lelah bercampur tawa. Capek bercampur rasa bangga.

Di ruang itu, kerja fisik dan kerja kreatif bertemu tanpa sekat. Semua terlibat. Semua merasa punya bagian.

Dan mungkin, di situlah makna terdalam dari Labyrinth of Animasi Squad:
kelas bukan lagi sekadar tempat belajar,
melainkan ruang yang tumbuh bersama proses siswanya.

Scroll to Top