Bukan Karya Instan: Cerita di Balik Sketsa, Ilustrasi, dan Model 3D Siswa Kelas XI

Jika melihat karya-karya yang akhirnya terpajang di ruang pameran Labyrinth of Animasi Squad 2025, mungkin mudah untuk berasumsi:
“Anak animasi memang jago dari awal.”

Padahal, hampir semua karya itu lahir dari proses yang jauh dari kata instan.

Di balik setiap sketsa yang tampak sederhana, ada puluhan garis yang dihapus.
Di balik ilustrasi berwarna rapi, ada malam-malam penuh kebingungan menentukan palet warna.
Dan di balik model 3D yang terlihat kokoh, ada objek yang berkali-kali “rusak”, bolong, atau tidak bisa di-render sama sekali.

Sketsa: Titik Awal yang Tidak Pernah Sempurna

Proses selalu dimulai dari kertas kosong.

Bagi siswa kelas XI Animasi, sketsa bukan sekadar tugas menggambar. Ia adalah ruang paling jujur untuk salah.
Tangan gemetar saat menarik garis pertama.
Proporsi yang terasa aneh.
Ekspresi karakter yang “tidak hidup”.

Tidak sedikit siswa yang berkali-kali bertanya,
“Pak, ini sudah benar belum?”
Padahal yang mereka hadapi bukan soal benar atau salah, melainkan berani melanjutkan atau berhenti.

Sketsa-sketsa itu kemudian dikumpulkan, dipilih, direvisi, dan diulang. Beberapa bahkan tidak pernah naik ke tahap berikutnya. Tapi justru di sanalah proses belajar terjadi—saat siswa menyadari bahwa tidak semua ide harus diselamatkan.

Ilustrasi 2D: Ketika Warna Mulai Bercerita

Masuk ke tahap ilustrasi, tantangannya berubah.

Bukan lagi soal bentuk, tapi rasa.

Warna apa yang cocok dengan karakter ini?
Apakah latar belakang perlu ramai atau justru sunyi?
Bagaimana cahaya jatuh agar gambar terasa hidup?

Banyak siswa mengulang ilustrasi dari nol karena satu hal sederhana:
“Gambarnya bagus, tapi belum terasa.”

Kalimat itu terdengar sederhana, tapi dampaknya besar. Mereka belajar bahwa ilustrasi bukan soal teknis semata, melainkan soal menyampaikan suasana dan cerita. Di titik ini, karya mulai menjadi medium ekspresi, bukan sekadar tugas kelas.

Model 3D: Belajar Sabar Lewat Bentuk dan Ruang

Bagi siswa yang mengerjakan model 3D, prosesnya terasa berbeda—dan sering kali lebih melelahkan.

Objek yang di layar terlihat mudah, ternyata penuh logika ruang.
Sedikit salah mengatur mesh, seluruh bentuk bisa kacau.
Salah skala, objek terlihat aneh.
Salah shading, hasil akhir tampak mati.

Tidak jarang siswa harus membongkar ulang model yang sudah dikerjakan berjam-jam. Di sinilah mereka belajar satu hal penting: kesabaran.

Model 3D mengajarkan bahwa keindahan sering datang dari ketelitian. Dari kesediaan untuk mundur selangkah demi hasil yang lebih matang.

Karya sebagai Jejak, Bukan Sekadar Pajangan

Semua karya kelas XI Animasi yang dipamerkan di Labyrinth of Animasi Squad 2025 sejatinya bukan karya akhir. Mereka adalah jejak.

Jejak proses belajar.
Jejak keberanian mencoba.
Jejak kegagalan kecil yang akhirnya membentuk kepercayaan diri.

Pameran ini bukan tentang menunjukkan siapa yang paling jago. Melainkan tentang memperlihatkan bahwa setiap siswa sedang berjalan—dengan langkahnya masing-masing—di lorong labirin bernama proses kreatif.

Dan mungkin, di sanalah nilai paling penting dari pameran ini:
karya tidak lahir untuk terlihat sempurna,
tetapi untuk menandai bahwa seseorang pernah belajar, berproses, dan tumbuh.

Scroll to Top