Dari Ide ke Labyrinth: Saat Pameran Animasi Pertama Mulai Dibayangkan

Tidak ada panggung besar saat ide itu muncul.
Tidak ada rapat resmi.
Tidak juga proposal tebal berlembar-lembar.

Hanya satu pertanyaan sederhana yang tiba-tiba terasa berat:

“Apakah karya siswa cukup layak untuk dipamerkan?”

Pertanyaan itu tidak langsung mencari jawaban. Ia berputar-putar di kepala. Menyelinap di sela jam pelajaran, di antara layar monitor yang menampilkan sketsa setengah jadi, model 3D yang masih kasar, dan coretan ide yang sering kali berakhir di folder “nanti”.

Di Jurusan Animasi, karya selalu lahir. Tapi sering kali, ia berhenti sebagai tugas.
Dinilai.
Dikomentari.
Lalu selesai.

Padahal, di balik setiap garis, setiap layer, dan setiap render yang gagal lalu diulang, ada perjalanan belajar yang jarang benar-benar dilihat.

Di titik itulah pikiran lain muncul, samar tapi terus mengetuk:

Karya siswa perlu diapresiasi.
Bukan hanya dengan angka.
Tapi dengan ruang.

Ruang untuk dilihat.
Ruang untuk diceritakan.
Ruang untuk dirayakan—apa adanya.

Bukan karena semuanya sempurna.
Justru karena masih belajar.

Gagasan pameran itu lahir bukan dari ambisi besar. Ia lahir dari kegelisahan kecil:
bagaimana jika semua proses ini hanya lewat begitu saja?

Bagaimana jika siswa tidak pernah merasakan sensasi melihat karyanya berdiri sendiri, dipajang, dilihat orang lain, dan—mungkin—dibicarakan?

Dari kegelisahan itu, kata pameran mulai disebut pelan-pelan.
Lalu semakin sering.

Bukan pameran megah.
Bukan galeri putih steril.

Tapi pameran yang jujur.
Yang merekam perjalanan.
Yang memperlihatkan bahwa belajar animasi bukan garis lurus—melainkan labirin.

Di situlah nama itu menemukan bentuknya:
Labyrinth of Animasi Squad.

Sebuah metafora yang terasa pas.
Karena setiap siswa masuk ke jurusan ini dengan titik awal yang berbeda.
Tersesat.
Menemukan jalan.
Kadang kembali ke titik awal.
Lalu berjalan lagi.

Artikel ini bukan tentang hasil akhir.
Bukan juga tentang tanggal dan daftar kegiatan.

Ini adalah titik awal cerita.
Tentang bagaimana sebuah pameran pertama kali dibayangkan—bahkan sebelum satu dinding dicat, sebelum satu karya dipilih, sebelum satu zona dibuat.

Di seri-seri berikutnya, cerita ini akan bergerak lebih dalam:
ke ruang kelas yang berubah fungsi,
ke karya-karya yang lahir dari tugas harian,
ke kolaborasi lintas siswa dan bidang,
hingga akhirnya ke hari ketika labirin itu benar-benar dibuka untuk publik.

Untuk sekarang, cukup diingat satu hal:

Semua perjalanan besar selalu dimulai dari satu pertanyaan kecil.
Dan Labyrinth of Animasi Squad, lahir dari keberanian untuk mempertanyakan—lalu mencoba menjawabnya bersama.

Scroll to Top